Saturday, May 13, 2017

CLOUD9 - Sé—Chapter 1: Sebelum Fajar (Indonesian Version)



Sé—Chapter 1
Sebelum Fajar


Sé terbangun dari mimpi buruknya yang biasa—dua tahun yang lalu sebelum kejadian berdarah di lembah Anville. Wajahnya berantakan dan matanya melotot merah—lelah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin mengalir deras di pelipisnya yang cekung dan pasi.

Sé sudah memimpikan hal serupa selama bertahun-tahun sejak ia berumur lima belas. Mimpi buruknya selalu tentang langit-langit berpilar tinggi dan jendela kaca tertutup tirai merah; berlari di tengah hutan—tersengal-sengal—tanpa tahu mengapa ataupun dikejar siapa atau apa; bertemu dengan gerombolan remaja laki-laki berwajah asing; atau memandang langit yang penuh dengan burung gagak bersuara parau. Semuanya berulang—bergilir secara acak setiap beberapa waktu sekali.

Sé bangkit dari tempat tidurnya. Menguap sedikit, kemudian mengacak-acak rambutnya. Sebelum akhirnya bergerak malas ke bibir jendela.

“Masih jam tiga pagi,” ucapnya pada diri sendiri.

Sé menguap sekali lagi. Ia mendorong bibir jendela dengan lembut, membiarkan hawa dingin menggerogoti kamarnya yang penuh dengan buku-buku yang sudah lama tidak dibaca. Matanya masih merah tetapi tidak mengantuk. Sé tidak bisa kembali tidur dalam kondisi begini. Dia takut mimpi buruknya akan terulang lagi. Alih-alih, Sé memanjat border jendela, bertengger disana seperti burung hantu yang sedang mengincar tikus atau bayi musang.

Kamarnya adalah ruangan pengap yang dilapisi wallpaper biru tua berbintik-bintik hitam. Ada sebuah meja belajar kayu di sisi jendela dan dua buah rak buku tua bersandar di kedua sisi yang saling berhadapan. Tempat tidurnya adalah tatami sebetis yang cukup kecil dan pendek; membuat Sé harus meringkuk seperti koala ketika berbaring di atasnya.



+++++

Bel jam enam berdentang sangat keras. Langit sudah mulai memerah dan ibu-ibu tetangga pun mulai berkeliaran. Entah untuk mengambil surat kabar pagi dan botol susu, menyiram bunga, atau hanya sekedar menjulurkan lehernya keluar jendela untuk menyapa ibu-ibu lain yang melakukan hal serupa.

Sé masih nongkrong dengan posisi yang sama sejak semalam, dengan kedua lengan berlipat di lutut dan kepala yang terkulai lelah berbantal lengan. Dia cukup sering tertidur di situ dan selalu begitu. Dia bertengger begitu di border jendela tertinggi rumah nomor sembilan—sebuah bangunan tua empat lantai yang pondasinya terbuat dari kayu. Sé mengenakan sweater merah muda berbulu. Ia juga memakai celana pendek merah bata. Begini, dia terlihat seperti burung kukuk penanda alarm di jam dinding.

Ketika lonceng jam tujuh berdentang dan cahaya matahari mulai membakar, Sé terbangun dengan satu kali ayunan besar yang bisa membuat siapapun terjungkal. Tubuhnya mengayun kedepan tetapi sepersekian detik kemudian tangannya yang tadi dilipat di lututnya menyambar border jendela dengan sigap lalu berayun kebelakang mendorong tubuhnya masuk ke kamar dan mendarat dengan dua kaki tepat di depan jendela. Ia mendengar suara ibunya berteriak memanggil dari lorong lantai dua. Sé menyahut dua kali dengan suara parau yang tidak dibuat-buat.

Butuh waktu satu jam tiga puluh empat menit bagi Sé untuk turun ke ruang makan. Ibunya sedang merajut ketika Sé muncul dan menyapanya dengan senyum seringai minta maaf yang tidak ditanggapi dengan ramah.

“Dewasalah!” pinta ibunya ketika Sé menangkap lemparan roti dari pemanggang—dengan mulutnya.

“Awu bawu tuyuh bewas,” jawabnya dengan mulut berisi.

Ibunya terlihat kesal tetapi Sé sama sekali mengabaikannya.

Sé tidak seperti saudara kembarnya. Dia tidak penurut. Dia juga tidak suka mengalah. Ibunya selalu membanding-bandingkan Sé dengan kakak kembarnya yang bahkan tidak memiliki kesamaan fitur fisik. Sé tinggi, putih, dan kurus sementara kakak kembarnya tidak tinggi, tidak sepucat Se, dan lebih berisi. Mereka tidak seperti saudara kembar—mereka bahkan tidak seperti saudara sama sekali.

“Mana kakak?” tanyanya.

“Di kamarnya,” jawab ibunya. “Membaca.”

“Ung,” jawab Sé.

“Ayahmu menyuruhmu potong rambut. Dia bilang kau terlihat seperti—gagak,” ujar ibunya.

“Gagak—itu keren,” jawab Sé konyol. “Aku bahkan punya suara serak.”

“Potong rambutmu! Jangan banyak ulah. Kita diundang makan malam di rumah Pak Poe. Jangan buat ayahmu malu.”

“Tapi aku tak kenal Pak Poe,” jawab Sé sambil menuang sereal ke piring.

“Dia klien ayahmu. Berapa kali harus ku bilang agar kau memperhatikan apa yang kami katakan?” balas ibunya ketus. “Kita bertiga akan pergi ke sana malam ini. Aku sudah menyiapkan pakaianmu. Jangan melakukan hal-hal bodoh dan tolong lepaskan gelang aneh itu,” balas ibunya tanpa berhenti merajut motif anak ikan di sweeter yang baru setengah jadi.

“Kenapa tidak kakak saja yang ikut?” tanya Sé.

“Dia ada ujian. Kakakmu harus belajar supaya tidak dapat nilai memalukan.”

“Aku juga ujian!” protes Sé. “Aku punya PR kalkulus juga, dan menulis laporan, dan deadline esai Kimia yang sama sekali belum kusentuh.”

“Kau bisa melakukannya nanti,” jawab ibunya enteng. “Semua orang tahu kau begadang sepanjang malam. Kau bisa membuat PR, menulis laporan, atau mengerjakan esai Kimia alih-alih nongkrong di jendela sampai pagi.

“Ibu-ibu tetangga mulai membicarakanmu. Mereka pikir kau aneh. Bukankah sudah waktunya kau bersikap lebih normal? Aku sampai harus menyembunyikan muka ketika ibu-ibu itu berbisik-bisik membicarakanmu. Kata mereka, aku dan ayahmu yang bodoh. Mereka bilang kami tidak becus, tetapi tentu saja itu sama sekali tidak benar,” jelas ibunya panjang lebar.

Sé berjalan mendekati konter. Ia mencuci tangannya di wastafel sementara ibunya masih terus mengoceh tentang bagaimana seharusnya dia bersikap.

Sé bukanlah anak pembangkang. Dia memang tidak penurut tetapi juga tidak banyak menuntut. Dibandingkan dengan kakaknya pun Sé tergolong lebih ramah. Dia masih punya cukup teman di sekolah dan dia juga punya satu atau dua sahabat dekat yang mau membantunya untuk sekedar membuat PR atau berkelahi.

Kakak kembarnya orang yang tertutup. Dia hampir tidak pernah keluar kamarnya. Dia belajar home-schooling dan hanya berinteraksi dengan sedikit sekali makhluk hidup kecuali kegelapan dan kecoak. Meskipun demikian, kedua orang tuanya selalu menganggap kakaknya baik-baik saja. Ibunya tidak memarahi kakaknya ketika dia tidak keluar kamar. Mereka bahkan tidak memaksanya memotong rambut atau berpakaian rapi.

Sé berbalik membelakangi konter. Ia memandang ibunya dengan tatapan kosong yang biasa dan ibunya masih terus berbicara panjang lebar tanpa sedetik pun berhenti merajut sweater bergambar ikan.

“...itu sebabnya kau yang harus menemani kami ke acara Pak Poe nanti malam. Ayahmu akan menjemput kita jam tiga dan kau harus segera berangkat sekolah,” tutup ibunya.

Sé mengangguk patuh. Dia menyandang ranselnya dengan malas lalu mengecup pipi kiri ibunya yang berhenti sejenak dari kegiatannya.

“Gunting rambutmu!” perintah ibunya ketika Sé berlari keluar dari pintu depan.

Sé tidak menjawab tetapi membunyikan bel sepedanya sekali. Ia kemudian meluncur cepat menuruni lembah Anville yang masih cukup sepi. Dia sudah hampir terlambat.



+++++

Sé benar-benar memotong pendek rambutnya ketika pulang ke rumah. Wajahnya terlihat lebih runcing dengan rambut pendek tipis yang tidak lagi menutupi pelipisnya. Sé sebenarnya menyukai rambutnya yang baru tetapi anak-anak perempuan di sekolah memanggilnya Si Culun. Ia benci di panggil Si Culun.

Ayahnya datang beberapa menit sebelum jam tiga. Dia adalah laki-laki berbadan bundar dan berkulit agak gelap. Banyak yang bilang, Sé tidak mirip dengan ayahnya.

“Mana ibumu?”

“Di dalam,” jawab Sé.

“Kau harus bersikap lebih ramah. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Orang besar—Pak Poe—punya banyak kenalan hebat,” jelas ayahnya bahkan ketika Sé tidak menanyakan apa-apa. “Kau lebih baik diam saja dan makan dengan tenang. Salah-salah bicara, bisa saja dia mencabut kembali investasinya.”

“Kenapa tidak tinggalkan saja aku di rumah?” tanya Sé sambil memperbaiki posisi dasinya yang miring. “Akan lebih aman jika aku tidak ikut, ya kan?”

“Ibumu memaksaku membawamu,” balas ayahnya jujur. “Dia bilang, sedikit sosialisasi bisa membuatmu lebih dewasa.”

“Kenapa tidak mengajak kakak saja?” pintas Sé. “Kakak sudah tidak keluar rumah sejak bulan lalu, lho. Dia lebih butuh sedikit sosial dibanding aku.”

Ayahnya mengangkat bahu tetapi tidak mengatakan apa-apa karena selang sepersekian detik kemudian ibunya muncul dengan gaun malam berwarna kuning nenas.

“Kau yang nyetir!” perintah ibunya.

Sé mengangguk pasrah. Ia menerima kunci mobil dari ayahnya kemudian bergegas membuka pintu belakang sedan berwarna hitam mengkilap.

Ayahnya menuntun tangan ibunya dan mengantarnya ke mobil. “Kau berhasil membuat kami terlihat seperti pelayanmu,” ucap ayahnya.

Ibunya hanya tersenyum.



+++++

Makan malam di rumah Pak Poe adalah makan malam yang paling membosankan yang pernah dialami Sé. Ia hanya menatap kosong—menyaksikan ayahnya dan beberapa orang tamu lain berdiskusi tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan bonus besar dan ladang gandum. Ibunya dan istri ke dua Pak Poe sedang membicarakan hal lain yang lebih disukai perempuan. Mereka kadang-kadang terkikik dan berbisik-bisik seperti tidak ingin didengar orang lain.

Sé meninggalkan meja makan dan mendekati konter minuman dekat jendela. Ada cukup banyak tamu di sini dan tidak satupun yang ia kenal kecuali kalau kalau portrait Dorothea Du Bois bisa disebut kenalan. Ia sedang meneguk gelas mocktail-nya yang kelima ketika seseorang pemuda berkulit agak gelap menghampirinya.

“Kau suka di sini?” tanyanya.

“Kau bercanda?” jawab Sé balas bertanya.

“Atau kau lebih suka di sana, bersama tua-tua bangka yang datang ke sini hanya karena ingin untung besar,” sambung pemuda itu sambil menunjuk komplotan bapak-bapak yang sedang tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan lelucon Pak Poe yang sama sekali tidak lucu.

“Ayahku ada di sana,” jawab Sé jujur. “Dia memang ingin untung besar tapi kupikir Pak Poe tidak bodoh. Dia tidak akan memberikan uangnya untuk sesuatu yang tidak ia inginkan, ya kan?”

Pemuda itu tersenyum.

“Pak Poe kadang cukup bodoh kok,” jawabnya. “Dia hanya pasang wajah pintar kalau sedang banyak orang.”

“Bukannya itu wajar?” balas Sé.

“Tentu saja,” jawab laki-laki itu sambil menyisir rambutnya dengan jari. “Tidak boleh terlihat bodoh di hadapan klien adalah hal pertama yang harus dikuasai pebisnis.”

Sé mengangguk setuju.

Mereka berdua sekarang bersandar ke pagar balkon, membelakangi langit senja yang perlahan-lahan mulai menghitam. Dia sudah meletakkan gelas mocktailnya ketika seorang pelayan berbadan buntal mendekatinya. Sekarang tangannya kehilangan aktivitas dan kini sedang mencari-cari apa yang harus ia lakukan pada kedua lengannya yang bebas. Mereka berdua bersandar dalam diam selama beberapa menit. Sé baru berniat akan pergi ketika pemuda yang berdiri di sebelahnya berdehem kecil.

“Aku Jožka,” ucap pemuda itu akhirnya, “dan kau?”

“Sé.” jawabnya.

“Maaf?” tanya Jožka.

“Sé. Namaku Sé.” ulang Sé.

“Senang bertemu dengan mu, Sé.” ujar Jožka. “Masih sekolah?”

“Yep.”

“Aku juga. Umurmu?”

“Tujuh belas. Kau?”

“Sama.”

“Kupikir kau lebih tua,” komentar Sé.

“Kupikir kau yang lebih tua,” balas Jožka. “Kau tinggal di mana?”

“Anville,” jawab Sé.

“Di mana itu?” tanya Jožka.

“Kau tidak tahu Anville? Kau berasal dari mana sih?” jawab Sé balik bertanya.

“Aku orang sini kok,” jawabnya.

“Dan belum pernah ke Anville?” tanya Sé lagi.

Jožka  mengangkat bahu.

“Aku mungkin pernah ke sana dan melupakannya,” jawabnya enteng seakan-akan itu adalah hal yang biasa.

“Mungkin?” tanya Sé tidak percaya.

Dude. Anville itu di sana,” ucap Sé sambil menunjuk ke arah selatan. “Kau lihat, lampu warna-warni itu. Itu Anville. Bagaimana mungkin kau lupa atau tidak tahu Anville itu yang mana?”

Sé menyeringai tidak percaya. Ia bisa maklum jika orang-orang tidak tahu Rosewood atau Millstone tapi Anville adalah sebuah pemukiman besar. Pusat perbelanjaan terbesar di wilayah ini terletak di Anville. Belum lagi Monumen Malaikat yang terkenal dan Danau Kaki Angsa.

“Sudah berapa lama kau tinggal di sini?” tanya Sé.

“Hmm, sejak aku punya ingatan, kurasa,” jawab Jožka datar.

Sé menyeringai lagi. Seakan-akan dipermainkan dia menatap Jožka dengan pandangan menyelidik.

“Apa maksudmu sejak kau punya ingatan?” tanya Sé bingung. “Kau dari lahir tinggal di sini? Atau kau pindah ke sini dari kecil? Atau...”

“Aku tidak tahu,” potong Jožka. “Yang kuingat, aku memang tinggal di sini dan itu sepertinya sudah cukup lama—kau tau—seperti selamanya.”

“Jangan ngaco!” balas Sé terkikik. “Kau pasti sedang mempermainkan aku. Mana ada orang sini tidak tahu Anville di mana. Kalau pun ada, mereka pasti tidak bersosialisasi dengan baik atau tidak pernah keluar rumah,” balas Sé sambil memukul bahu Jožka dengan lembut.

“Tapi aku serius,” ujar Jožka. “Ku harap aku tahu Anville itu yang mana,” sambungnya.

Come on! Jangan mengerjaiku. Aku tahu kau bercanda. Kakak kembarku yang paling malas keluar rumah saja tahu lebih banyak hal. Dia bahkan tidak punya teman dan tidak bicara dengan siapapun. Kau benar-benar lucu.”

Jožka tersenyum tetapi tampak jelas kebingungan dari wajahnya. Sé masih terkikik. Ia menganggap Jožka sangat lucu. Dia baru sekali bertemu orang seperti Jožka. Mana ada orang sini yang tidak kenal Anville yang hanya dua setengah mil jaraknya. Nenek-nenek yang sudah pikun saja bisa tahu kalau Anville itu ada di selatan Benhill.

“Aku benar-benar tidak bohong,” balas Jožka setelah dua menit berlalu. “Aku benar-benar tinggal di sini dan aku tidak akan berbohong untuk hal seperti ini.”

“Aku tahu,” jawab Sé. “Aku juga tidak bisa berbohong tetapi kau sangat lucu.”

“Sama sekali tidak lucu,” bantah Jožka yang kemudian di sambut oleh tawa Sé yang mulai terdengar seperti dengusan.

Jožka tidak marah ketika Sé menertawakannya. Jožka malah memilih ikutan tertawa karena barang kali situasinya juga sedikit lucu. Sé tertawa hingga matanya memerah dan suaranya yang serak mulai menjadi lebih serak.

Mereka berdua pindah dari balkon ketika ada sepasang tamu yang mabuk mulai bercumbu di dekat mereka. Jožka mengajak Sé ke halaman samping menjauhi bapak-bapak berbadan buntal yang sibuk dengan lelucon tentang lapangan golf dan beberapa orang remaja perempuan yang berbisik-bisik sambil tersenyum malu ketika mereka berdua lewat.

“Di sana sangat bising,” jelas Jožka. “Aku tidak terlalu suka keramaian. Kau tidak keberatan, kan, kita duduk di sini?”

“Sama sekali tidak,” jawab Sé.

Dia sudah cukup senang bertemu seseorang yang bisa diajak bicara. Sé sering menemani ayah dan ibunya pergi ke pesta atau sekedar undangan makan malam di restoran keluarga. Dia biasanya hanya melahap makanan dalam diam dan kemudian menunggu hingga ayah atau ibunya selesai membicarakan bisnis, gosip, lelucon, kontrak, atau apapun itu. Bertemu dengan Jožka di sini membuat penantiannya tidak terlalu membosankan. Lagi pula ayah dan ibunya tidak akan selesai sebelum tengah malam kalau pesta makan malamnya semeriah ini.

Mereka duduk di sebuah kursi taman kayu yang menghadap lurus ke sebuah kolam kecil. Jožka melepas sepatunya. Ia mencelupkan kedua kaki ke kolam—membiarkan ikan kecil berwarna orange dan putih bermain-main di dekatnya. Sé tidak suka bermain air. Dia hanya duduk di kursi taman memandang jauh ke ujung kolam. Remaja perempuan yang tadi berbisik-bisik sudah dua kali mondar-mandir di sisi lain kolam.
“Siapa nama kembaranmu?” tanya Jožka setelah sunyi selama delapan menit, delapan detik.

____________________________________________________________________________________________
PS: Cloud9 is a temporary title. I'll get the new official title later. The story will be written both in Bahasa Indonesia and English. 
PS2: Every main character in this saga will have their own chapters. Some characters will telling the story in backward. So you have to read the title for every chapter. Minus (-) sign means the story will be in backward.

2 comments:

Random Activities from Random People

Assembleh august 31st part 2 from Ludo Strait