Showing posts with label Chapter 1. Show all posts
Showing posts with label Chapter 1. Show all posts

Saturday, May 13, 2017

CLOUD9 - Biniáimin—Chapter 1: Ingatan



Biniáimin—Chapter 1
Ingatan


Dia terbangun menggigil di atas permukaan es yang mengapung di tengah belantara. Kepalanya berdenyut keras dan rasa haus yang luar biasa menggerogoti tenggorokannya. Ia membuka matanya perlahan—memandang langit kelam berbintang.

“Sudah bulan Juni,” ucapnya dengan suara serak yang bukan miliknya.

Ia duduk bangkit—terhuyung—akibat gelombang air laut yang membawanya bermil-mil jauhnya dari tempatnya tertidur tadi.

“Biniáimin,” ucapnya dengan suaranya sendiri yang tidak serak. “Namaku Biniáimin,” ulangnya. Biniáimin selalu menyebut namanya setiap kali ia terbangun. Dia punya pengalaman buruk tentang ingatan dan Biniáimin dengan susah payah mengingat semuanya.

Pakaiannya kuyup. Dia kedinginan tetapi tidak sampai menggigil. Biniáimin menatap jauh ke horison. Dia punya pandangan yang sangat baik hingga sangat mudah baginya menemukan lokasi pulau terdekat. Biniáimin kemudian membuka pakaiannya. Ia tidak memiliki banyak tato seperti Iúileán tetapi sepasang lingkaran oval hitam jelas-jelas terukir di kedua lengannya.

Biniáimin adalah perenang yang handal. Dia bisa berenang pada temperatur ekstrem atau di lautan paling ganas sekalipun. Biniáimin juga bisa menyelam dalam waktu yang cukup lama. Dia tidak perlu tabung oksigen kalau hanya sepuluh atau dua puluh menit di bawah laut. Biniáimin menyadarinya sewaktu kabur dan bersembunyi di dasar sungai tahun lalu.

Hanya butuh waktu setengah jam bagi Biniáimin untuk kembali mencapai pulau besar. Dia menemukan dua ekor king-claw sembari berenang. Ia akan memakannya mentah-mentah. Dia sangat lapar. Rasa lapar yang sangat membuat inderanya melemah.

Biniáimin mengingat-ingat lagi apa yang telah terjadi selama beberapa hari terakhir. Dia kabur dari kelompok pemburu yang mencoba membakarnya hidup-hidup. Mereka mengumpulkan orang-orang seperti dirinya. Tidak banyak memang, tapi mereka adalah para pemburu handal. Teknologi yang mereka gunakan saja beberapa dekade lebih maju.

Biniáimin menyentuh bulatan hitam di lengannya. Dia ingat kali pertama terbangun dalam keadaan kosong. Dia tidak ingat apa-apa dan tidak kenal siapa-siapa. Dia bahkan tidak ingat namanya. Itu sebabnya Biniáimin selalu menyebut namanya setiap beberapa waktu sekali. Tanda hitam di kedua lengannya adalah misteri yang lain. Biniáimin tidak ingat sejak kapan tetapi dia tidak suka tato. Ingatannya memang perlahan-lahan mulai kembali tetapi pecahan-pecahan memori itu belum sepenuhnya sempurna. Biniáimin mengingat banyak hal yang berhubungan dengan laut. Ia ingat pernah punya piyama pinguin. Ia juga ingat pantai berpasir hitam. Ia mengingat banyak hal tetapi melupakan beberapa yang penting seperti kenapa tidak ada orang yang mengenalnya padahal  semua orang sepertinya sangat familiar.

Biniáimin mempelajari rasi bintang. Dia juga punya insting yang kuat tentang arah mata angin. Kondisi ini membuat Biniáimin selalu bisa menemukan tempat tujuannya. Dan tujuannya kali ini adalah menemukan Siúirtán dan Laoidheach.

Biniáimin, Siúirtán, dan Laoidheach—mereka bertiga—adalah tiga orang asing yang ditakdirkan bertemu. Mereka sama-sama kabur dari pemburu. Biniáimin hampir tidak mengenal keduanya tetapi mereka berjanji akan berkumpul lagi di Dermaga Berum pada hari ke lima setelah bulan muda. Ia tidak punya banyak waktu. Besok adalah hari yang dijanjikan atau Biniáimin harus menunggu satu bulan lagi. Sendirian di belantara selama dua puluh hari saja sudah membuatnya gila. 
Biniáimin mengeluarkan sesuatu yang berbentuk kubus dari ranselnya; menaruhnya di atas pasir kemudian memutar sesuatu yang terlihat seperti pematik. Kubus itu kemudian mengeluarkan sinar kuning lembut dan hawa hangat yang nyaman. Biniáimin tidak tahu dimana dia mendapatkan benda itu tetapi kubus ini sangat berguna. Namanya juga cukup mudah di ingat: Kubus.

____________________________________________________________________________________________
PS: Cloud9 is a temporary title. I'll get the new official title later. The story will be written both in Bahasa Indonesia and English. 
PS2: Every main character in this saga will have their own chapters. Some characters will telling the story in backward. So you have to read the title for every chapter. Minus (-) sign means the story will be in backward.
PS3: Biniáimin is one of the lead character along with Sé.

SOTUS PROJECT - Chapter 1



RULE FOR FRESHMEN No. 1

DON’T DEBATE THE INITIATION COMMITTEE

“Y
ou guys can't just shout like that. Shout louder!!”
The voice was roaring like a warden yelling at their prisoners. Yet, the so called prisoners are not really in jail. They actually were inside the common room of the Engineering Faculty. Among them, there’s a sophomore who stood proudly in front of the freshmen, giving order and staring fiercely at the whole new faces.
It’s Arthit; a third-year student who showed an arrogant face with a fierce looking eyes. He’s the chairman of the Initiation Committee; the one who scolded the greenie for murmuring their answer. Though, even if they answered him loud enough, he would still pretend to not hear anything.
Don’t ask me why. It’s not that he’s a bad guy. It’s the duty of the Initiation Committee to take care of the new faculty member. It’s been a tradition from generation to generation. The committee will do a lot more than this in the future. This is just the beginning.
The committee kept their cold faces and for once Arthit repeated his question.
“I’ll ask you again. How many are you this year?”
The floor was mostly silent. Just like his prediction.
They were only here for two days. No one could remember all of their friends let alone to count how many freshmen were in just two days? Plus, Engineering Faculty has the largest number of students in the entire University. It’d be easier if they just asked them to solve calculus problem than counting heads.
The struggles were real. That kind of question really did bring pressure to the greenies[1]. It seemed like the committee finally achieved their unspeakable goal.
Though, why did the committee have to be so barbaric? They shouldn’t have to be so vile. They are students; university students. They shouldn’t treat their junior this way. Yet again, what if the lecturers caught them on act? It would cause some trouble. There must be some rules for the committee about speaking. They should not speak improperly like what they currently did. Their ill-manners were somehow successfully intimidated the freshmen.
"Seriously?” asked Arthit. “Does it mean that none of you fools cares about your friends? It’s the reason why none of you fucking care how many fools are you!"
The chairman walked slowly around the room as he showed his power to intimidate the freshmen. He observed their faces, they seemed to be afraid and some were in the verge of crying. He was glad that this intimidating method was still effective.
Say, actually Arthit is not an ill-manner person. He is not a psychotic man who loves to see people cry. His current behavior was only for show. After all, he is infamous Chairman of the Initiation Committee. He usually is kindhearted; when he sees young girls cry – pretty girls, mostly – he couldn’t help himself but hugging and consoling them. Yes, he was that guy!
When Arthit saw one of the greenie-girl cried for being too intimidated by the committee, he was in urge to console her. Yet, he was obligated to keep his fierce face and ill-manner looking stares. Thus, a greenie-boy next to her gave his handkerchief to the crying girl. She took it and presented him her smile.
Sweet Jesus! What a nice guy! Is he really unaware of me, The Chairman of the Initiation Committee? Arthit heard an inner voice in his head. He was still there, but that the greenie-boy paid no attention as he gave the girl his full attention.
Arthit liked the girl. He was going to ask her for her number but everything went downhill for him because of that one particular greenie.
What a greenie… He wants to be a hero?? Well, Fine… If he really desires to… I’ll shoot him a chance.
"Hey, you over there, stand up!!!"
Arthit howled at the handkerchief’s owner. The girl next to him startled, she looked at him with a worried face for realizing that the voice came from the chairman. But the greenie-boy sensed no problem. He stood up, showed his full height, and made the Arthit startled.
Although Arthit thought that he’s pretty tall (about 6 feet height) this greenie-boy is taller than him for almost 4 inches. His thick eyebrows and his good looking face, they’re beaming an expensive aura that beaten up the rest of the guys in the room.
He tried not to be vile but the greenie-boy really made his feet itchy. Even more, the feeling was doubled when he found out that there were no a slight of fear in the boy’s eyes. Alright! Let’s give him some good lessons for being manlier than all guys in the committee.
"Say your name and your ID number clearly!" he asked.
"My name is Kongpob and my code number[2] is 0062."
"Now tell me. How many of you are there in your class?!" asked Arthit almost directly.
"I don’t know, sir.”
“Why?”
“I’ve never counted, sir."
The responses made not only were his eyebrows raised up, but also his hands which slowly took the shape of a fist.  Arthit somehow wanted to rush at him immediately to punch his handsome face.
…This greenie is really pissing me off…
If Arthit met someone like him out of the school, he would have called his friends to beat him up. But now, they’re standing in the middle of the common room – in the initiation day where hundreds of eyes relied on him. He would not let anything affect him. He’s still their senior after all and he’d let him off this time.
Arthit tried to hide his anger. He started giving orders with a strict voice.
"Even if you’ve never counted, it is still the information you should already know. Also, you all have to answer every question. Do you understand?"
"Yes, sir!" said the freshmen.
Arthit extracted a necklace out from his pockets. It looks like a gear painted over by a brown color. He raised it in front of Kongpob’s face and asked
"Do you see this gear?"
"Yes, sir."
"This gear is a symbol for the whole faculty. It represents the pride of an engineer. It does not belong to just any individual person. If you can’t prove that you deserve to have it, get out of here!! Then from now on, I won’t accept you as my junior."
The last part of what he said wasn’t only for Kongpob alone. It’s for the whole freshmen as the common room started being tumultuous. It seemed like to achieve the gears the greenies must be participated in the committee’s initiation game. The committee itself was dominated by third-year students.
“If the freshmen behave well and join every activity, you could easily get the gears. Besides, if you don’t, you probably will be in trouble,” said Atrhit. “Furthermore, the initiation process will be more and more difficult. It could be yours worst nightmare. You have to follow every activity, every day onward. Once you skip the process the whole class would be punished. The worst is that you all might not get your gears at all.”
It is not even a joke. The seniors are deadly serious. Freshmen already know that the tradition has always been this way for generations. They’ve also heard about the older-greenies who didn’t get their gears and some unofficial rumor about them. Thus, the threat has not lost its effectiveness. By this time, some freshmen’s faces started to become pale and some were almost fainted.
A smile appeared on his face before he returned towards Kongpob who probably started to worry.
"Now let me know. If I don’t give you this gear, what are you going to do?" asked Arthit. He finished his words with an arrogant face. He seemed to predict what that haughty young man is going to say. It’s probably I don’t know again. And when that happens, he’ll make sure that the guy gets his punishment; just to let him know that he is nothing but a freshman.
…You should know your place, greenie!! By the time you’ll realize that you were just a nothing.
Arthit returned to the podium as if he already won. He expected to punish the boy without even before hearing the boy’s answer. But right before he stepped up, the boy spoke up. It surely made him almost fall backwards.
"Then, I’ll just have to take it from you myself, sir." said Kongpob.
He returned immediately as he could not believe what he had heard.
…What the heck? Did I hear it wrong?
"What did you say?"
Arthit asked again. He looked straight towards the unruffled face. His eyes were staring at Kongpob before the greenie could say anything—anymore.
"If you don’t give it to us, we’ll have to snatch it away from you, sir." Kongpob said. He sounded like he was not afraid of anything and it – for the second time – made the whole common room tumultuous again.
Arthit couldn’t believe what he just heard. His eyes opened undeniably wide after that young guy dared to say it directly to his naked face. It’s like someone stroked him in the face with their shoe.
His hands were wringed strictly. He stepped in front of him, grabbed his collar and howled.
"Say it again!!!” He roared. “Do you really motherfucking think that you can snatch it away from me?"
"I believe, I—can, sir." said Kongpob.
"Then, how the fuck will you do that shit?"
"I just have to make you mine."
…Silent
…The entire room became silent.
Kongpob clutched Arthit’s hand that was grabbing his collar. He looked straight towards Arthit’s eyes whose was unexpectedly frozen after hearing his answer.
"There’s a saying, everything belongs to their lover, belongs to them too. If I make you mine—as my wife, yours will also be mine."
"You…"
Arthit quickly took his hand back of Kongpob’s collar. He tried to come up with a viler return but the common room was filled with cheering and whistling. Even his friends, the third-year students, they looked like they enjoyed the greenie’s confession.
The next moment, Arthit realized that he undoubtedly seemed like a moron who was being kicked out of the edge.
"SHUT THE FUCK UP!!!" Arthit roared in anger.
The rest of the committee helped him turning down the noise. He showed his most unpleasant look to Kongpob. This dipshit is really know how pissing me off.
Arthit wasn’t sure either if Kongpob was serious or not. It wasn’t obvious if he’s really into this kind of thing but there’s something about him that made Arthit couldn’t let it pass from his thought. He wanted to make me his. Alright, let him try.
Arthit, himself, is pretty sure that he is straight. He would never have any of those feelings for a dude. If Kongpob dared to challenge him, he’ll accept it.
"Fine,” Arthit said. “We’ll see what you really capable of. But for now, the gear is still mine and I have all the right to punish you."
A smile grew upon his face before he gave the declared his words.  "Kongpob; 0062. Hands up and do the squad 200 times!! NOW!!"
"Yes—sir."
The greenie didn’t show any disappointment for the punishment. Instead, he slightly smiled. He didn’t prolong the conflict between them. On the contrary, he seemed to enjoy it. He stepped up front and started.
Arthit was standing right next to him; watching. He surely tried to hide his anger by showing his unusual content face.
He thought, a foolish greeny wanted to make the Chairman Committee his for a piece of gear necklace? Does he even awake?
…Let see who will be whose in the end….
…It’s definitely a war – between The Chairman of the Initiation Committee and Mr. Greenie…




[1] Greenie = Freshman (New Student).
[2] Student ID number.

______________________
PS: It's a free-form translation of SOTUS novel and some of my personal rendition of the story. I read the Thai version from https://my.dek-d.com/-bittersweet-/writer/viewlongc.php and found also found some English translation online. But I'd like to add my personal translation for the story so I created this one.

If you found my translation somewhere else, please contact me.

PS2: I am currently studying Thai, so Thai is not my first language. If you found this translation a little off, I'll edit them for sure.

PS3: Thank You, Bittersweet, for the original novel. I bought one but they're in Thai, so in the end, I didn't read the book, instead I went to the site and spent hours reading on the screen.

PS4: I've changed some terms in Thai into common English terminologies. I'm sorry for that.

CLOUD9 - Sé—Chapter 1: Sebelum Fajar (Indonesian Version)



Sé—Chapter 1
Sebelum Fajar


Sé terbangun dari mimpi buruknya yang biasa—dua tahun yang lalu sebelum kejadian berdarah di lembah Anville. Wajahnya berantakan dan matanya melotot merah—lelah. Seluruh tubuhnya bergetar hebat dan keringat dingin mengalir deras di pelipisnya yang cekung dan pasi.

Sé sudah memimpikan hal serupa selama bertahun-tahun sejak ia berumur lima belas. Mimpi buruknya selalu tentang langit-langit berpilar tinggi dan jendela kaca tertutup tirai merah; berlari di tengah hutan—tersengal-sengal—tanpa tahu mengapa ataupun dikejar siapa atau apa; bertemu dengan gerombolan remaja laki-laki berwajah asing; atau memandang langit yang penuh dengan burung gagak bersuara parau. Semuanya berulang—bergilir secara acak setiap beberapa waktu sekali.

Sé bangkit dari tempat tidurnya. Menguap sedikit, kemudian mengacak-acak rambutnya. Sebelum akhirnya bergerak malas ke bibir jendela.

“Masih jam tiga pagi,” ucapnya pada diri sendiri.

Sé menguap sekali lagi. Ia mendorong bibir jendela dengan lembut, membiarkan hawa dingin menggerogoti kamarnya yang penuh dengan buku-buku yang sudah lama tidak dibaca. Matanya masih merah tetapi tidak mengantuk. Sé tidak bisa kembali tidur dalam kondisi begini. Dia takut mimpi buruknya akan terulang lagi. Alih-alih, Sé memanjat border jendela, bertengger disana seperti burung hantu yang sedang mengincar tikus atau bayi musang.

Kamarnya adalah ruangan pengap yang dilapisi wallpaper biru tua berbintik-bintik hitam. Ada sebuah meja belajar kayu di sisi jendela dan dua buah rak buku tua bersandar di kedua sisi yang saling berhadapan. Tempat tidurnya adalah tatami sebetis yang cukup kecil dan pendek; membuat Sé harus meringkuk seperti koala ketika berbaring di atasnya.



+++++

Bel jam enam berdentang sangat keras. Langit sudah mulai memerah dan ibu-ibu tetangga pun mulai berkeliaran. Entah untuk mengambil surat kabar pagi dan botol susu, menyiram bunga, atau hanya sekedar menjulurkan lehernya keluar jendela untuk menyapa ibu-ibu lain yang melakukan hal serupa.

Sé masih nongkrong dengan posisi yang sama sejak semalam, dengan kedua lengan berlipat di lutut dan kepala yang terkulai lelah berbantal lengan. Dia cukup sering tertidur di situ dan selalu begitu. Dia bertengger begitu di border jendela tertinggi rumah nomor sembilan—sebuah bangunan tua empat lantai yang pondasinya terbuat dari kayu. Sé mengenakan sweater merah muda berbulu. Ia juga memakai celana pendek merah bata. Begini, dia terlihat seperti burung kukuk penanda alarm di jam dinding.

Ketika lonceng jam tujuh berdentang dan cahaya matahari mulai membakar, Sé terbangun dengan satu kali ayunan besar yang bisa membuat siapapun terjungkal. Tubuhnya mengayun kedepan tetapi sepersekian detik kemudian tangannya yang tadi dilipat di lututnya menyambar border jendela dengan sigap lalu berayun kebelakang mendorong tubuhnya masuk ke kamar dan mendarat dengan dua kaki tepat di depan jendela. Ia mendengar suara ibunya berteriak memanggil dari lorong lantai dua. Sé menyahut dua kali dengan suara parau yang tidak dibuat-buat.

Butuh waktu satu jam tiga puluh empat menit bagi Sé untuk turun ke ruang makan. Ibunya sedang merajut ketika Sé muncul dan menyapanya dengan senyum seringai minta maaf yang tidak ditanggapi dengan ramah.

“Dewasalah!” pinta ibunya ketika Sé menangkap lemparan roti dari pemanggang—dengan mulutnya.

“Awu bawu tuyuh bewas,” jawabnya dengan mulut berisi.

Ibunya terlihat kesal tetapi Sé sama sekali mengabaikannya.

Sé tidak seperti saudara kembarnya. Dia tidak penurut. Dia juga tidak suka mengalah. Ibunya selalu membanding-bandingkan Sé dengan kakak kembarnya yang bahkan tidak memiliki kesamaan fitur fisik. Sé tinggi, putih, dan kurus sementara kakak kembarnya tidak tinggi, tidak sepucat Se, dan lebih berisi. Mereka tidak seperti saudara kembar—mereka bahkan tidak seperti saudara sama sekali.

“Mana kakak?” tanyanya.

“Di kamarnya,” jawab ibunya. “Membaca.”

“Ung,” jawab Sé.

“Ayahmu menyuruhmu potong rambut. Dia bilang kau terlihat seperti—gagak,” ujar ibunya.

“Gagak—itu keren,” jawab Sé konyol. “Aku bahkan punya suara serak.”

“Potong rambutmu! Jangan banyak ulah. Kita diundang makan malam di rumah Pak Poe. Jangan buat ayahmu malu.”

“Tapi aku tak kenal Pak Poe,” jawab Sé sambil menuang sereal ke piring.

“Dia klien ayahmu. Berapa kali harus ku bilang agar kau memperhatikan apa yang kami katakan?” balas ibunya ketus. “Kita bertiga akan pergi ke sana malam ini. Aku sudah menyiapkan pakaianmu. Jangan melakukan hal-hal bodoh dan tolong lepaskan gelang aneh itu,” balas ibunya tanpa berhenti merajut motif anak ikan di sweeter yang baru setengah jadi.

“Kenapa tidak kakak saja yang ikut?” tanya Sé.

“Dia ada ujian. Kakakmu harus belajar supaya tidak dapat nilai memalukan.”

“Aku juga ujian!” protes Sé. “Aku punya PR kalkulus juga, dan menulis laporan, dan deadline esai Kimia yang sama sekali belum kusentuh.”

“Kau bisa melakukannya nanti,” jawab ibunya enteng. “Semua orang tahu kau begadang sepanjang malam. Kau bisa membuat PR, menulis laporan, atau mengerjakan esai Kimia alih-alih nongkrong di jendela sampai pagi.

“Ibu-ibu tetangga mulai membicarakanmu. Mereka pikir kau aneh. Bukankah sudah waktunya kau bersikap lebih normal? Aku sampai harus menyembunyikan muka ketika ibu-ibu itu berbisik-bisik membicarakanmu. Kata mereka, aku dan ayahmu yang bodoh. Mereka bilang kami tidak becus, tetapi tentu saja itu sama sekali tidak benar,” jelas ibunya panjang lebar.

Sé berjalan mendekati konter. Ia mencuci tangannya di wastafel sementara ibunya masih terus mengoceh tentang bagaimana seharusnya dia bersikap.

Sé bukanlah anak pembangkang. Dia memang tidak penurut tetapi juga tidak banyak menuntut. Dibandingkan dengan kakaknya pun Sé tergolong lebih ramah. Dia masih punya cukup teman di sekolah dan dia juga punya satu atau dua sahabat dekat yang mau membantunya untuk sekedar membuat PR atau berkelahi.

Kakak kembarnya orang yang tertutup. Dia hampir tidak pernah keluar kamarnya. Dia belajar home-schooling dan hanya berinteraksi dengan sedikit sekali makhluk hidup kecuali kegelapan dan kecoak. Meskipun demikian, kedua orang tuanya selalu menganggap kakaknya baik-baik saja. Ibunya tidak memarahi kakaknya ketika dia tidak keluar kamar. Mereka bahkan tidak memaksanya memotong rambut atau berpakaian rapi.

Sé berbalik membelakangi konter. Ia memandang ibunya dengan tatapan kosong yang biasa dan ibunya masih terus berbicara panjang lebar tanpa sedetik pun berhenti merajut sweater bergambar ikan.

“...itu sebabnya kau yang harus menemani kami ke acara Pak Poe nanti malam. Ayahmu akan menjemput kita jam tiga dan kau harus segera berangkat sekolah,” tutup ibunya.

Sé mengangguk patuh. Dia menyandang ranselnya dengan malas lalu mengecup pipi kiri ibunya yang berhenti sejenak dari kegiatannya.

“Gunting rambutmu!” perintah ibunya ketika Sé berlari keluar dari pintu depan.

Sé tidak menjawab tetapi membunyikan bel sepedanya sekali. Ia kemudian meluncur cepat menuruni lembah Anville yang masih cukup sepi. Dia sudah hampir terlambat.



+++++

Sé benar-benar memotong pendek rambutnya ketika pulang ke rumah. Wajahnya terlihat lebih runcing dengan rambut pendek tipis yang tidak lagi menutupi pelipisnya. Sé sebenarnya menyukai rambutnya yang baru tetapi anak-anak perempuan di sekolah memanggilnya Si Culun. Ia benci di panggil Si Culun.

Ayahnya datang beberapa menit sebelum jam tiga. Dia adalah laki-laki berbadan bundar dan berkulit agak gelap. Banyak yang bilang, Sé tidak mirip dengan ayahnya.

“Mana ibumu?”

“Di dalam,” jawab Sé.

“Kau harus bersikap lebih ramah. Aku tidak ingin kehilangan kesempatan ini. Orang besar—Pak Poe—punya banyak kenalan hebat,” jelas ayahnya bahkan ketika Sé tidak menanyakan apa-apa. “Kau lebih baik diam saja dan makan dengan tenang. Salah-salah bicara, bisa saja dia mencabut kembali investasinya.”

“Kenapa tidak tinggalkan saja aku di rumah?” tanya Sé sambil memperbaiki posisi dasinya yang miring. “Akan lebih aman jika aku tidak ikut, ya kan?”

“Ibumu memaksaku membawamu,” balas ayahnya jujur. “Dia bilang, sedikit sosialisasi bisa membuatmu lebih dewasa.”

“Kenapa tidak mengajak kakak saja?” pintas Sé. “Kakak sudah tidak keluar rumah sejak bulan lalu, lho. Dia lebih butuh sedikit sosial dibanding aku.”

Ayahnya mengangkat bahu tetapi tidak mengatakan apa-apa karena selang sepersekian detik kemudian ibunya muncul dengan gaun malam berwarna kuning nenas.

“Kau yang nyetir!” perintah ibunya.

Sé mengangguk pasrah. Ia menerima kunci mobil dari ayahnya kemudian bergegas membuka pintu belakang sedan berwarna hitam mengkilap.

Ayahnya menuntun tangan ibunya dan mengantarnya ke mobil. “Kau berhasil membuat kami terlihat seperti pelayanmu,” ucap ayahnya.

Ibunya hanya tersenyum.



+++++

Makan malam di rumah Pak Poe adalah makan malam yang paling membosankan yang pernah dialami Sé. Ia hanya menatap kosong—menyaksikan ayahnya dan beberapa orang tamu lain berdiskusi tentang sesuatu yang ada hubungannya dengan bonus besar dan ladang gandum. Ibunya dan istri ke dua Pak Poe sedang membicarakan hal lain yang lebih disukai perempuan. Mereka kadang-kadang terkikik dan berbisik-bisik seperti tidak ingin didengar orang lain.

Sé meninggalkan meja makan dan mendekati konter minuman dekat jendela. Ada cukup banyak tamu di sini dan tidak satupun yang ia kenal kecuali kalau kalau portrait Dorothea Du Bois bisa disebut kenalan. Ia sedang meneguk gelas mocktail-nya yang kelima ketika seseorang pemuda berkulit agak gelap menghampirinya.

“Kau suka di sini?” tanyanya.

“Kau bercanda?” jawab Sé balas bertanya.

“Atau kau lebih suka di sana, bersama tua-tua bangka yang datang ke sini hanya karena ingin untung besar,” sambung pemuda itu sambil menunjuk komplotan bapak-bapak yang sedang tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan lelucon Pak Poe yang sama sekali tidak lucu.

“Ayahku ada di sana,” jawab Sé jujur. “Dia memang ingin untung besar tapi kupikir Pak Poe tidak bodoh. Dia tidak akan memberikan uangnya untuk sesuatu yang tidak ia inginkan, ya kan?”

Pemuda itu tersenyum.

“Pak Poe kadang cukup bodoh kok,” jawabnya. “Dia hanya pasang wajah pintar kalau sedang banyak orang.”

“Bukannya itu wajar?” balas Sé.

“Tentu saja,” jawab laki-laki itu sambil menyisir rambutnya dengan jari. “Tidak boleh terlihat bodoh di hadapan klien adalah hal pertama yang harus dikuasai pebisnis.”

Sé mengangguk setuju.

Mereka berdua sekarang bersandar ke pagar balkon, membelakangi langit senja yang perlahan-lahan mulai menghitam. Dia sudah meletakkan gelas mocktailnya ketika seorang pelayan berbadan buntal mendekatinya. Sekarang tangannya kehilangan aktivitas dan kini sedang mencari-cari apa yang harus ia lakukan pada kedua lengannya yang bebas. Mereka berdua bersandar dalam diam selama beberapa menit. Sé baru berniat akan pergi ketika pemuda yang berdiri di sebelahnya berdehem kecil.

“Aku Jožka,” ucap pemuda itu akhirnya, “dan kau?”

“Sé.” jawabnya.

“Maaf?” tanya Jožka.

“Sé. Namaku Sé.” ulang Sé.

“Senang bertemu dengan mu, Sé.” ujar Jožka. “Masih sekolah?”

“Yep.”

“Aku juga. Umurmu?”

“Tujuh belas. Kau?”

“Sama.”

“Kupikir kau lebih tua,” komentar Sé.

“Kupikir kau yang lebih tua,” balas Jožka. “Kau tinggal di mana?”

“Anville,” jawab Sé.

“Di mana itu?” tanya Jožka.

“Kau tidak tahu Anville? Kau berasal dari mana sih?” jawab Sé balik bertanya.

“Aku orang sini kok,” jawabnya.

“Dan belum pernah ke Anville?” tanya Sé lagi.

Jožka  mengangkat bahu.

“Aku mungkin pernah ke sana dan melupakannya,” jawabnya enteng seakan-akan itu adalah hal yang biasa.

“Mungkin?” tanya Sé tidak percaya.

Dude. Anville itu di sana,” ucap Sé sambil menunjuk ke arah selatan. “Kau lihat, lampu warna-warni itu. Itu Anville. Bagaimana mungkin kau lupa atau tidak tahu Anville itu yang mana?”

Sé menyeringai tidak percaya. Ia bisa maklum jika orang-orang tidak tahu Rosewood atau Millstone tapi Anville adalah sebuah pemukiman besar. Pusat perbelanjaan terbesar di wilayah ini terletak di Anville. Belum lagi Monumen Malaikat yang terkenal dan Danau Kaki Angsa.

“Sudah berapa lama kau tinggal di sini?” tanya Sé.

“Hmm, sejak aku punya ingatan, kurasa,” jawab Jožka datar.

Sé menyeringai lagi. Seakan-akan dipermainkan dia menatap Jožka dengan pandangan menyelidik.

“Apa maksudmu sejak kau punya ingatan?” tanya Sé bingung. “Kau dari lahir tinggal di sini? Atau kau pindah ke sini dari kecil? Atau...”

“Aku tidak tahu,” potong Jožka. “Yang kuingat, aku memang tinggal di sini dan itu sepertinya sudah cukup lama—kau tau—seperti selamanya.”

“Jangan ngaco!” balas Sé terkikik. “Kau pasti sedang mempermainkan aku. Mana ada orang sini tidak tahu Anville di mana. Kalau pun ada, mereka pasti tidak bersosialisasi dengan baik atau tidak pernah keluar rumah,” balas Sé sambil memukul bahu Jožka dengan lembut.

“Tapi aku serius,” ujar Jožka. “Ku harap aku tahu Anville itu yang mana,” sambungnya.

Come on! Jangan mengerjaiku. Aku tahu kau bercanda. Kakak kembarku yang paling malas keluar rumah saja tahu lebih banyak hal. Dia bahkan tidak punya teman dan tidak bicara dengan siapapun. Kau benar-benar lucu.”

Jožka tersenyum tetapi tampak jelas kebingungan dari wajahnya. Sé masih terkikik. Ia menganggap Jožka sangat lucu. Dia baru sekali bertemu orang seperti Jožka. Mana ada orang sini yang tidak kenal Anville yang hanya dua setengah mil jaraknya. Nenek-nenek yang sudah pikun saja bisa tahu kalau Anville itu ada di selatan Benhill.

“Aku benar-benar tidak bohong,” balas Jožka setelah dua menit berlalu. “Aku benar-benar tinggal di sini dan aku tidak akan berbohong untuk hal seperti ini.”

“Aku tahu,” jawab Sé. “Aku juga tidak bisa berbohong tetapi kau sangat lucu.”

“Sama sekali tidak lucu,” bantah Jožka yang kemudian di sambut oleh tawa Sé yang mulai terdengar seperti dengusan.

Jožka tidak marah ketika Sé menertawakannya. Jožka malah memilih ikutan tertawa karena barang kali situasinya juga sedikit lucu. Sé tertawa hingga matanya memerah dan suaranya yang serak mulai menjadi lebih serak.

Mereka berdua pindah dari balkon ketika ada sepasang tamu yang mabuk mulai bercumbu di dekat mereka. Jožka mengajak Sé ke halaman samping menjauhi bapak-bapak berbadan buntal yang sibuk dengan lelucon tentang lapangan golf dan beberapa orang remaja perempuan yang berbisik-bisik sambil tersenyum malu ketika mereka berdua lewat.

“Di sana sangat bising,” jelas Jožka. “Aku tidak terlalu suka keramaian. Kau tidak keberatan, kan, kita duduk di sini?”

“Sama sekali tidak,” jawab Sé.

Dia sudah cukup senang bertemu seseorang yang bisa diajak bicara. Sé sering menemani ayah dan ibunya pergi ke pesta atau sekedar undangan makan malam di restoran keluarga. Dia biasanya hanya melahap makanan dalam diam dan kemudian menunggu hingga ayah atau ibunya selesai membicarakan bisnis, gosip, lelucon, kontrak, atau apapun itu. Bertemu dengan Jožka di sini membuat penantiannya tidak terlalu membosankan. Lagi pula ayah dan ibunya tidak akan selesai sebelum tengah malam kalau pesta makan malamnya semeriah ini.

Mereka duduk di sebuah kursi taman kayu yang menghadap lurus ke sebuah kolam kecil. Jožka melepas sepatunya. Ia mencelupkan kedua kaki ke kolam—membiarkan ikan kecil berwarna orange dan putih bermain-main di dekatnya. Sé tidak suka bermain air. Dia hanya duduk di kursi taman memandang jauh ke ujung kolam. Remaja perempuan yang tadi berbisik-bisik sudah dua kali mondar-mandir di sisi lain kolam.
“Siapa nama kembaranmu?” tanya Jožka setelah sunyi selama delapan menit, delapan detik.

____________________________________________________________________________________________
PS: Cloud9 is a temporary title. I'll get the new official title later. The story will be written both in Bahasa Indonesia and English. 
PS2: Every main character in this saga will have their own chapters. Some characters will telling the story in backward. So you have to read the title for every chapter. Minus (-) sign means the story will be in backward.

Random Activities from Random People

Assembleh august 31st part 2 from Ludo Strait